Ini Dia Kuliner Tradisional Perayaan Maulid Nabi di Indonesia

Ini Dia Kuliner Tradisional Perayaan Maulid Nabi di Indonesia

Perayaan Maulid Nabi di Indonesia menjadi bagian dari keseruan perayaan tradisi Maulidan di negeri ini. Keberadaannya menjadi budaya yang selalu ada. Masing-masing kuliner tradisional tersebut memiliki nilai-nilai luhur tentang rasa syukur dan hubungan antara sesama manusia, serta dengan Tuhan. Penasaran apa saja kuliner yang biasa hadir dalam setiap perayaan istimewa ini? Berikut ulasannya.

  • Kolombengi dan Wapili, Gorontalo

Kolombengi dan Wapili merupakan penganan yang tidak pernah absen dalam setiap perayaan Maulid Nabi Saw di Gorontalo. Pada setiap perayaan, dua jenis kue ini menjadi hiasan pada tolangga yang terbuat dari kayu atau rotan dan berbentuk menara atau perahu.

Gunungan Kolombengi dan Wapili ini kemudian dibagikan pada warga yang sejak semalam suntuk membaca riwayat Nabi Muhammad Saw. Jika tidak habis, kue akan kembali dibagikan pada masyarakat yang ramai-ramai menghadiri perayaan. Tradisi ini sudah diwarisi sejak Islam masuk ke kawasan Gorontalo dan sekitarnya. Yakni sekitar abad XVI.

  • Bu Kulah dan Kuah Beulangong, Aceh

Sebagai Bumi Serambi Mekkah, Aceh juga turut meramaikan Maulid Nabi Saw setiap tahunnya. Di antara itu, Bu Kulah dan Kuah Beulangong juga tidak pernah absen. Keduanya selalu hadir meramaikan. Bu Kulah merupakan nasi yang dibungkus dengan daun pisang yang sudah lebih dulu digarang di atas api. Sehingga aroma daun yang layu dapat memengaruhi cita rasa dari nasi menjadi lebih lezat.

Sementara itu, Kuah Beulangong merupakan olahan berkuah berbahan dasar daging kambing atau sapi, nangka muda dan pisang kepok yang dipotong kecil-kecil. Bahan tersebut dimasak dengan rempah-rempah. Olahan ini biasa dibuat bergotong-royong untuk acara-acara besar seperti Maulid Nabi, kenduri, upacara adat atau pesta pernikahan. Nah! Pada acara Maulid Nabi, keduanya sering disandingkan. Masing-masing bermakna gotong royong dan saling berbagi. Teman Traveler tertarik dengan keduanya? Bisa berkunjung ke Aceh pada saat-saat peringatan Maulid Nabi seperti sekarang ini.

  • Nasi Suci Ulam Sari, Pacitan

Kuliner tradisional perayaan Maulid Nabi di Indonesia selanjutnya adalah Nasi Suci Ulam Sari dari Pacitan. Pada setiap malam 12 Rabiul Awal setiap tahunnya, warga Pacitan biasa menyiapkan satu porsi besar nasi uduk dengan isian berupa sayuran serta ingkung ayam kampung. Nasi Suci Ulam Sari tersebut kemudian dibawa ke masjid-masjid untuk didoakan. Selanjutnya dimakan bersama. Peringatan Maulid Nabi di Pacitan yang khas ini dapat mempererat semangat silaturahmi antartetangga.

  • Ampyang Maulid, Kudus

Jika selama ini Teman Traveler mengenal ampyang sebagai camilan yang terbuat dari kacang dan gula, Ampyang Maulid berbeda. Ia merupakan gunungan makanan yang berisi nasi kepal yang dibungkus daun jati, lauk, sayuran dan kerupuk ampyang yang merupakan khas Kudus.

Bagian dari tradisi perayaan Maulid Nabi di Kudus ini sudah berlangsung sejak abad ke-16, tepatnya di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Gunungan tersebut kemudian diarak keliling desa untuk kemudian didoakan oleh para ulama setempat. Tradisi ini sudah dipatenkan oleh Dinas Pariwisata Kudus pada 2004 lalu sebagai warisan budaya dari Loram Kulon Kudus, Jawa Tengah.

  • Nasi Kebuli, Jakarta

Nasi Kebuli biasa dapat dijumpai dalam hidangan perayaan keagamaan dan perayaan maulid nabi. Masyarakat Betawi menyajikan Nasi Kebuli dalam perayaan Maulid nabi di masjid-masjid. Nasi Kebuli dihidangkan dalam nampan besar dan dimakan secara bersama-sama. Nasi ini kuat dengan cita rasa rempah-rempah. Nasi ini dimasak bersama kaldu daging kambing, susu kambing, dan minyak samin, disajikan dengan daging kambing goreng dan ditaburi dengan irisan kurma atau kismis. Hidangan ini populer di kalangan warga Betawi di Jakarta dan warga keturunan Arab di Indonesia. Tak hanya di di Indonesia, di negara Malaysia dan beberapa kampung distrik Pahang dan Kuala Lipis juga sering menjadi menjadikan nasi kebuli sebagai makanan tradisi Maulid Nabi

  • Endog-endogan, Banyuwangi

Kuliner tradisional perayaan Maulid Nabi di Indonesia selanjutnya cukup unik. Namanya adalah Endog-endogan. Masyarakat Banyuwangi, sebagai pemilik tradisi, mengarak telur itik rebus yang sudah dihias sedemikian rupa dengan bunga kertas atau ornamen lainnya.

Endog-endogan yang ditancapkan di batang pisang tersebut diarak bersama ancak atau tempat makan dari pelepah daun pisang yang berisi lauk-pauk. Nantinya, mereka dimakan bersama-sama. Kehadiran Endog-endogan pada setiap perayaan Maulid Nabi di Banyuwangi ini menyimbolkan kerukunan dan kebersamaan. Endog atau telur yang memiliki tiga lapisan melambangkan sebagai Islam, Iman dan Ihsan seseorang; sebuah hubungan antara manusia dengan Tuhan.

  • Nasi Rasul, Lombok

Berkunjung ke Lombok pada saat perayaan Maulid Nabi, Teman Traveler bisa ikut mencicipi Nasi Rasul. Ia juga merupakan bagian dari kuliner tradisional perayaan Maulid Nabi di Indonesia yang masih dilaksanakan sampai kini. Nasi Rasul merupakan olahan beras ketan yang diolah dengan kunyit lalu disajikan bersama parutan kelapa tua.

Parutan kelapa tersebut sebelumnya diolah lebih dulu dengan campuran bawang merah dan putih. Pada perayaan Maulid Nabi, ia dibagikan bersama aneka jajanan tradisional Lombok lainnya kepada seluruh peserta yang ikut memeringati Maulid Nabi. Kuliner ini adalah bentuk rasa syukur dan gembira atas peristiwa kelahiran Nabi Muhammad Saw.

  • Sumpil (Jawa Tengah)

Sumpil? Terdengar asing pastinya. Sumpil merupakan makanan yang berbentuk ketupat. Keunikan ketupat ini memiliki ukuran yang lebih kecil dari ukuran ketupat lainya. Bahan pembungkus yang biasanya dari janur kuning, pembungkus Sumpil terbuat dari daun bambu dan bentuknya segitiga dengan garis horizontal. Biasanya disajikan dengan sambal kelapa atau serundeng.

Nah, Sumpil ini banyak dibagikan oleh sebagian masyarakat di Jawa Tengah kepada tetangga atau kerabatnya dengan bertamu dengan memberikan Sumpil yang telah dibuatnya. Tradisi ini berlangsung pada tanggal 11 Rabiul awal selepas ashar hingga keesokan harinya.

  • Male (Makassar)

Male ini terbuat dari nasi ketan putih atau hitam dalam wadah plastik atau panci yang dihias dengan telur warna-warni dan bunga-bunga kertas dan beraneka lauk yang disimpan di tengah atau wadah besar. Male ini tidak hanya dijumpai pada saat maulid saja, tapi seringkali bisa dijumpai instansi-instansi sekolah dan pemerintahan. Sebab banyak juga yang mengadakan lomba membuat male.

  • Gunungan, Jawa Tengah

Gunungan merupakan salah satu tradisi khas yang ada setiap peringatan Maulid Nabi. Biasanya terdapat aneka buah dan sayur yang dibentuk layaknya gunung dan diarak lalu kemudian dibagi-bagikan. Tak hanya buah dan sayur, kue tradisional hingga nasi kepal biasanya juga ada pada gunungan.

Kuliner tradisional perayaan Maulid Nabi di Indonesia tidak luput dari nilai-nilai kemanusiaan, seperti gotong royong, kerukunan dan kebersamaan. Ia juga menjadi bagian yang menyimbolkan keutuhan hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Penasaran dengan rasanya? Teman jika beruntung mungkin bisa mengikuti serangkaian acara perayaan Maulid Nabi di berbagai daerah. Kuliner mana saja nih yang pernah Teman – teman coba?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *